Laporan Pendahuluan Atritis Reumatoid

Saturday, December 22, 2012

By: Arifuddin, S.Kep
Alumni STIKes Madani Yogyakarta angkatan 2010
 
 
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.


Makalah Malpresentasi Muka Pada Bayi

By: Arifuddin, S.Kep
Alumni STIKes Madani Yogyakarta angkatan 2010



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Gangguan terhadap jalannya proses persalinan dapat disebabkan oleh berbagai factor, antara lain dengan adanya kelainan presentasi, posisi dan perkembangan janin intra uterine. Diagnosa distosia akibat janin bukan hanya disebabkan oleh janin dengan ukuran yang besar, janin dengan ukuran normal namun dengan kelainan pada presentasi intra uterin juga tidak jarang menyebabkan gangguan proses persalinan.
Saat ini tidak ada metode yang akurat untuk meramalkan secara pasti tentang adanya Disproporsi Fetopelvik baik secara klinis maupun menggunakan alat radiologis oleh sebab itu tenaga kesehatan sangat perlu mengetahui bagaimana mendeteksi secara dini penyulit- penyulit yang akan terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin, dan janin. Terutama kasus  malposisi dan malpesentasi, agar tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan dapat melakukan penanganan yang tepat.


Sex Education Pada Anak

Monday, December 3, 2012
Yogyakarta, 4 Desember 2012

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh...

Pukul 00:33 WIB, terjaga.......  
Yahh dari pada tidak ada kegiatan ngeblog aja deh. Bingung mau posting apa yaa, **sibuk, capek, males mikir! mendingan posting Essay hasil karya temen akrab  Novita Nabilla. Katanya sih ini adalah Essay, tapi kok lebih mirip ama artikel ya?? Karena aku juga kurang faham dengan Essay yang baik dan benar itu seperti apa hohohoh :) Mungkin para pembaca sekalian bisa memberikan penilaian. Ya sudah kayaknya tidak perlu dibahas ini Essay atau Artikel yang penting isinya keren hehehe :) 

Dipostingan kali ini membahas mengenai pentingnya sex education pada anak. Selamat membaca dan berselancar di dunia maya.... 



 



PENTINGNYA SEX EDUCATION PADA ANAK

Jika membicarakan tentang sex, banyak yang berfikiran ini adalah pembahasan yang di anggap tabu, apalagi jika ditambah kata education menjadi “sex education” kesannya malah mengajarkan tentang hubungan sex, sex education bukanlah pelajaran yang mendidik tentang hubungan sexsualitas, tetapi lebih kepada pendidikan sistem reproduksi remaja, karena anak yang baru menginjak dewasa sangat penting jika di berikan sex education agar mereka mengetahui pentingnya kesehatan reproduksi pada dirinya, banyak orang tua yang beranggapan sex education tidak seharusnya diberikan kepada remaja karena di anggap tabu, dan si anak akan menghayal tentang sex, karena terkesan vulgar. sebenarnya banyak yang salah mengartikan tentang ini, pelajaran mengenai sex sangat penting diberikan, sex dapat di artikan secara luas yaitu segala hal yang mencakup tentang organ reproduksi, jadi sex education yaitu pembelajaran mengenai organ-organ reproduksi, anak harus mengetahui kapan mereka di katakan remaja?, kapan masa pubertas?, apa itu masa pubertas?, dan apa dampak jika tidak menjaga organ reproduksinya dengan baik.

Dalam memberikan pendidikan sex pada remaja juga harus sesuai dengan tingkatan usianya, agar anak paham dan tidak salah mengartikan kata perkata yang di jelaskan sehingga mudah dipahami oleh anak dan tergantung substansi sex education itu sendiri, contohnya anak SD mungkin dimulai dengan memberikan pengertian kepada mereka perbedaan terhadap lawan jenis antara laki-laki dan perempuan, siapa laki-laki? siapa perempuan?, kemudian untuk tingkatan SMP bisa mengenai tentang masa pubertas dan personal hygiene untuk menunjang keberesihan organ reproduksinya, karena pada tingkatan SMP adalah awal-awalnya masa pubertas, mereka harus mengenal apa itu pubertas?? bagaimana dampaknya jika mereka kurang memperhatikan organ reproduksinya terkait dengan masa pubertas? Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak dan sesuai dengan tingkatannya, dan untuk tingkatan SMA lebih mendalam lagi bisa mengenai tentang penyakit menular sexsual, seperti mengenalkan kepada mereka tentang HIV AIDS, dampak dari PMS dan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terkena PMS. Bisa juga dengan memberikan pengetahuan tentang sex pranikah, misalnya dampak melakukan hubungan sex sebelum nikah dapat menimbulkan PMS, karena tidak adanya pertahanan tubuh yang diberikan seperti imunisasi TT yang hanya di dapat ketika menjelang pernikahan, dan dapat juga memberikan penjelasan tentang perilaku yang beresiko terhadap organ reproduksi. Semuanya harus menggunkan bahasa yang lazim, yang dipahami oleh anak dan tidak dengan kalimat yang mengandung unsur porno.

Menurut Sigmund Freud jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak terselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. Fiksasi adalah focus yang gigih pada tahap awal psikoseksual.

Maka anak harus mengenal tentang pendidikan sex agar mereka mendapatkan kepribadian yang sehat, bukan untuk mengenalkan hubungan seksual tetapi lebih kepada menumbuhkan kepribadian yang sehat dengan memberikan sex education yang sesuai dengan substansi dari masing-masing anak.


Terimakasih telah berkunjung & Semoga membawa manfaat bagi kita semua... :)
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...
 
Writter :  Novita Nabilla | Advokasi Himika 2012/2013 | Yogyakarta,30 November 2012 09.55pm

By: Arifuddin, S.Kep
Alumni STIKes Madani Yogyakarta angkatan 2010
 

Ulasan Agama dan Kesehatan Mental

Agama dan Kesehatan Mental

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh....

 Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta produr-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani (M.Bukhori:13.) Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam rohaninya atau hatinya selalu merasa tenang, aman dan tentram. (M.Bukhori :5). Menurut H.C. Witherington, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam lapangan psikologi, kedokteran, psikiatri, sosiologi dan agama. (M.Bukhori :5).
Di dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Dimaksud dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa dalam keadaan yang tak normal seperti susah, cemas, gelisah, maka badan turut menderita. Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang membuktikan adanya hubungan tersebut, jiwa dan badan. Orang yang merasa takut langsung kehilangan nafsu makan, atau buang-buang air. Atau dalam keadaan kesal dan jengkel, perut terasa menjadi kembung. Itu semua merupakan cerminan adanya hubungan antara jiwa dan badan sebagai hubungan timbal balik, jika jiwa sehat badan segar dan badan sehat jiwa normal.
Di dalam kedokteran dikenal beberapa macam pengobatan antara lain dengan menggunakan bahan-bahan kimia, sorot sinar, pijat dan lain sebagainya. Selain itu juga dikenal pengobatan tradisional seperti tusuk jarum (accupuntur), mandi uap,hingga cara pengobatan perdukunan. (K.H.S.S.Djam’an:11). Dalam hubunganya antara agama dan kesehatan mental. Menurut Prof.Dr.Muhammad Mahmud Abd al-Kadir bahwa di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu. Disalurkan melalui pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengartuh kepada eksistensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawaan tersebut disebut hormon.
Lebih jauh Muhammad Mahmud Abd al-Kadir berkesimpulan bahwa segala bentuk gejala emosi seperti bahagia, emosi,  rasa dendam, rasa marah, takut, berani, pengecut, cemas yang ada dalam diri manusia akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, di samping persenyawaan lainnya. Tetapi dalam kenyataannya kehidupan akal dan emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Karena itu selalu terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan unsur dasar dari kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya perasaannya,.kata Abd al-Qadir.
Tetapi jika terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, sedih yang berlangsung lama, akan timbul perubahan-perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit saraf kejiwaan. Hubungan penderita dengan dunia luar terputus, akal ditutupi oleh waham dan hayal yang membawanya jauh dari kenyataan hidup normal. Penderita selalu hidup dalam keadaan cemas dan murung, kebahagian hilang, penuh keraguan, takut, rasa berdosa, dengki dan rasa bersalah. Timbulnya penyakit emosi seperti itu akibat dari kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang. Padahal tanpa diragukan, bila terjadi perubahan dalam proses pemikiran, akan terjadi perubahan kimia dan biologi tubuh. Besar kecilnya perubahan itu tergantung dari kemampuan manusia menanggapi pengaruh itu. Kalau terjadi keseimbangan maka akan kembali menjadi normal, adapun pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang berbahaya itu sangat tergantung dari derajat keimanan seseorang yang tersimpan dalam diri manusia disamping faktor susunan tubuh serta dalam atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia itu. (Muhammad Mahmud Abd. al-Qadir, 1979).
Penemuan Muhammad Mahmud Abd. Al-Qadir seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi bukti akan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa. Pengobatan penyakit batin melalui bantuan agama telah banyak dipraktekkan orang. Dengan adnya gerakan Chritian Science kenyataan seperti itu diperkuat oleh pengakuan ilmiah pula. Dalam gerakan ini dilakukan pengobatan pasien melalui kerjasama antara dokter, psikiater dan ahli ilmu agama. Di sini tampak nilai manfaat dari ilmu jiwa agama. Ibnu al-Qayyim al-Jauzi (691-751) pernah mengemukakan itu sejak abad ke 7 hijrah. Menurutnya dokter yang tidak dapat memberikan pengobatan pasien tanpa memeriksa kejiwaannya dan tidak dapat memberikan pengobatan dengan berdasarkan perbuatan amal saleh, menghubungkan diri dengan Allah dan mengingat harti akhirat maka dokter tersebut bukanlah dokter dalam arti sebenarnya dan ia hanyalah dokter yang picik.
Barangkali hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi (Allah). Sikap pasrah yang serupa itu di duga akan memberikan sikap optimis pada diri seseorang sehingga menuncul perasaan positif seperti bahagia, rasa senang, puas, sukses merasa dicintai atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka dalam kondisi yang serupa itu manusia berada dalam keadaan tenang dan normal yang oleh Muhammad Mahmud Abd al-Qadir berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormon tubuh. (Jalaluddin,2001).
Berapa banyak orang yang berubah jalan hidup dan keyakinannya dalam waktu yang sangat pendek, dari seorang pejahat besar, tiba-tiba menjadi orang yang baik, rajin dan tekun beribadah seolah-olah ia dalam waktu yang sangat singkat dapat berubah menjadi orang lain sama sekali. Dan sebaliknya pun juga terjadi orang yang berubah dari patuh dan tunduk kepada agama menjadi orang yang suka lalai dan menentang agama. Hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat erat, biasanya orang-orang yang mengerti agama dan rajin melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya , moralnya dapat diperttanggung jawabkan. Sebaliknya orang-orang yang akhlaknya merosot, biasanya keyakinannya terhadap agama kurang atau tidak sama sekali. (Etty Kartikawati, dkk., 1997 :13).
Agaknya cukup logis kalau setiap ajaran agama mewajibkan penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan pelaksanaan ibadah agama, paling tidak akan ikut    berpengaruh dalam menanamkan keluhuran budi yang pada puncaknya akan menimbulkan rasa sukses sebagai pengabdi Tuhan setia.Tindak ibadah setidak-tidaknya akan memberi rasa bahwa hidup menjadi lebih bermakna. Dan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesatuan jasmani dan rohani secara tak terpisahkan memerlukan perlakuan yang dapat memuaskan keduanya. Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistika dikenal logoterapi yang berarti makna dan rohani. Logoterapi dilandasi falsafah hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi sosial pada kehidupan manusia. Kemudian logoterapi menitikberatkan pada pemahaman bahwa dambaan utama manusia yang asasi atau motif dasar manusia adalah hasrat untuk hidup bermakna. Di antara hasrat itu terungkap dalam keinginan manusia untuk memiliki kebebasan dalam menemukan makna hidup. Kebebasan seperti itu dilakukannya antara lain melalui karya-karya yang diciptakannya, hal-hal yang dialami dan dihayati (termasuk agama dan cinta) atau dalam sikap atas keadaan dan penderitaan yang tak mungkin terelakkan. (Jalaluddin,2001).
Selanjutnya logoterapi menunjukkan tiga bidang kegiatan yang secara potensial memberi peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Kegiatan tersebut adalah :
  1. Kegiatan berkarya, bekerja dan mencipta, serta melaksanakan dengan baik tugas dan kewajibannya masing-masing.
  2. Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu seperti kebenaran, keindahan, kebajikan, keimanan.
3. Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tak terelakkan lagi.
Dalam menghadapi sikap yang tak terhindarkan lagi pada kondisi ke tiga, menurut logoterapi, maka ibadah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuka pandangan seseorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya. (Hanna Djumhana Bastaman, 1989).
Dalam psikologi agama ada dua istilah yang biasa dipakai yaitu Kesadaran agama dan Pengalaman agama. Kesadaran agama adalah bagian atau seri agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi dan ia merupakan aspek mental dari aktivitas agama. Pengalaman agama adalah unsur perasaan agama dalam kesadaran agama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah). Seperti rasa lega dan tentram setelah menunaikan shalat, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa, rasa bahagia setelah membaca ayat-ayat Al Qur’an, perasaan tenang dan menerima (pasrah) setelah berzikir kepada Allah dalam menghadapi masalah yang menyedihkan dan mengecewakan. Jadi, bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (masyarakat umum). (Etty Kartikawati, dkk., 1997 :13-14)


By: Arifuddin, S.Kep
Alumni STIKes Madani Yogyakarta angkatan 2010

Terimakasih telah berkunjung & Semoga membawa manfaat bagi kita semua... :)
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...

Mengenal Kesehatan Reproduksi Remaja


Created by: Arif-Mezz

MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual (FCI, 2000).
 

Mengapa Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting?

Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.


Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997).
Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.
Kebutuhan dan jenis risiko kesehatanreproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.
Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka padarisiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3).
Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat
ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse).
Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).
Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376).
Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997).

Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja…………
Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997).
Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997).
Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar, 1997).
Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja (Outlook, 2000).
Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien.
Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja putri (42,3%) (LDFEUI & NFPCB, 1999a:92).

Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) (LDFEUI & NFPCB, 1999b:14).
Sumber Informasi Kesehatan Reproduksi……………
Remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. Akan tetapi karena faktor keingintahuannya mereka akan berusaha untuk mendapatkan informasi ini. Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya menolak membicarakan masalah seks sehingga mereka kemudian mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa.

Kebanyak orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah. Padahal, anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua atau sekolah cenderung berperilaku seks yang lebih baik daripada anak yang mendapatkannya dari orang lain (Hurlock, 1972 dikutip dari Iskandar, 1997).

Keengganan para orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga disebabkan oleh rasa rendah diri karena rendahnya pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi (pendidikan seks). Hasil pre-test materi dasar Reproduksi Sehat Anak dan Remaja (RSAR) di Jakarta Timur (perkotaan) dan Lembang (pedesaan) menunjukkan bahwa apabila orang tua merasa meiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, mereka lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah seks (Iskandar, 1997:3). Hambatan utama adalah justru bagaimana mengatasi pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau seks adalah tabu untuk dibicarakan oleh orang yang belum menikah (Iskandar, 1997:1).
Artikel Kesehatan Reproduksi : Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi
Responden survei remaja di empat propinsi yang dilakukan pada tahun 1998 memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah. Ada 2,2% responden setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah. Angka ini menurun menjadi 1% bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah. Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka responden yang setuju menjadi 8,6%. Jika mereka berencana untuk menikah, responden yang setuju kembali bertambah menjadi 12,5% (LDFEUI & NFPCB, 1999a:96-97).

Sebuah studi yang dilakukan LDFEUI di 13 propinsi di Indonesia (Hatmadji dan Rochani, 1993) menemukan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa pengetahuan mengenai kontrasepsi sudah harus dimiliki sebelum menikah.
Perilaku Seksual Remaja……………..
Survei remaja di empat propinsi kembali melaporkan bahwa ada 2,9% remaja yang telah seksual aktif. Persentase remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah terdiri dari 3,4% remaja putra dan 2,3% remaja putri (LDFEUI & NFPCB,
 
1999:101). Sebuah survei terhadap pelajar SMU di Manado, melaporkan persentase yang lebih tinggi, yaitu 20% pada remaja putra dan 6% pada remaja putri (Utomo, dkk., 1998).
Sebuah studi di Bali menemukan bahwa 4,4% remaja putri di perkotaan telah seksual aktif. Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan antara remaja putri di perkotaan dan pedesaan yang telah seksual aktif yaitu berturut-turut 1,3% dan 1,4% (Kristanti & Depkes, 1996: Tabel 8b).

Sebuah studi kualitatif di perkotaan Banjarmasin dan pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah pada remaja putra, sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6 tahun (Saifuddin dkk, 1997:78).

Tentu saja angka-angka tersebut belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya, mengingat masalah seksualitas termasuk masalah sensitif sehingga tidak setiap orang bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila angka sebenarnya jauh lebih besar daripada yang dilaporkan.

NB: Yuukkksss kita baca artikel  kesehatan ini, karena ini merupakan salah satu artikel kesehatan yang sangat penting dibaca oleh setiap kalangan remaja khususnya bagi para perempuan. Dengan membaca artikel kesehatan ini  akan memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan reproduksi perempuuan.Tentunya setiap perempuan memiliki keinginan untuk menjadi seorang ibu…..
Bukankah begitu……

By: Arifuddin, S.Kep
Alumni STIKes Madani Yogyakarta angkatan 2010
Terimakasih telah berkunjung & Semoga membawa manfaat bagi kita semua... :)
Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...
 Sumber    
 

Arifuddin, S.Kep Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger